Kesbangpolinmas Aceh Adakan Dialog Pencapaian Penanganan Konflik Aceh
Blang Pidie, citraaceh.com
Badan Kesatuan Bangsa, Politik
dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Aceh menlaksanakan Dialog Capaian
Penanganan Konflik Aceh tahun 2013 di Hotel Grand Leuser Blangpidie Kabupaten
Aceh Barat Daya (Abdya), Kamis (7/11).
Kegiatan yang diikuti oleh
anggota DPRK, perwakilan SKPK dalam jajaran Pemkab Abdya, para Camat, Keuchik,
tokoh masyarakat, tokoh Agama dan tokoh muda tersebut dibuka langsung oleh
Asisten Ekonomi Pembangunan Setdakab Abdya.
Asisten Ekonomi Pembangunan,
Drs. Tamrin dalam arahannya mengatakan, sejarah konflik Aceh telah dicatat
lebih dari 30 tahun Bumi Serambi Mekkah berada dalam situasi konflik yang
berlarut tentanya tidak dapat dihilangkan begitu saja.
“Secara faktual, konflik tidak
dapat dilenyapkan sama sekali, namun gejala konflik itu harus diminimalisir
sampai pada tingkat tertentu yang tidak akan menimbulkan disintegrasi
social,”sebut Tamrin.
Lebih lanjut dikatakan, konflik
harus dikelola sedemikian rupa, sehingga terbentuk suatu konsensus bersama
pasca terjadinya konflik. Menurutnya, potensi konflik selalu akan terjadi
akibat adanya perbedaan-perbedaan terutama jika perbedaan itu dipandang dan
dirasakan sebagai bentuk ketidakadilan.
“Puluhan tahun kita tidak dapat
mencari jalan keluar untuk lepas dari konflik dan trauma, namun dengan ridha
Allah SWT dan tekad kita semua, melalui berbagai pertemuan dan dialog akhirnya
menghasilkan berbagai kesepakatan yang memberi titik terang untuk menyelesaikan
konflik secara permanen,”jelas Thamrin.
Hal yang patut dipahami,
lanjuta Tamrin, bahwa nota kesepahaman MoU Helsinki adalah suatu bentuk
rekonsilasi secara bermartabat menuju pembangunan social, ekonomi, dan politik
di Aceh secara berkelanjutan.
“Tugas kita adalah menjaga dan
mengawal perdamaian secara berkelanjutan di Aceh khususnya di Abdya ini, karena
untuk meredam konflik tidak semudah membalik telapak tangan dan memerlukan
waktu yang panjang serta biaya yang sangat besar,”pungkasnya.
Pererat tali persaudaraan
Sementara itu Kepala Badan
Kesbangpolinmas Aceh, Nasir Zalba, SE melalui Kabid Politik Pemerintahan dan
Keamanan, Drs. Zulkifli Pardan kepada sejumlah wartawan dalam kesempatan yang
sama mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan
agar Aceh senantiasa damai dan sejahtera.
Di samping itu, lanjutnya,
kegitan tersebut juga untuk menyamakan visi dan persepsi segenap jajaran
penyelenggara Pemerintah Aceh terhadap pembangunan perdamaian.
Disebutkannya, saat ini telah
banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, namun untuk mengetahui sejauhmana
efektivitas langkah tersebut perlu dilakukan sebuah analisis untuk mengukur
pencapaiannya.
“Perlu dilakukan
langkah-langkah dalam menjaga kelangsungan perdamaian Aceh yang melibatkan
berbagai unsur dan komponen masyarakat , sehingga dapat membantu Pemerintah
Aceh dalam mengambil kebijakan untuk penguatan perdamaian itu sendiri,”
ulasnya.
Lebih lanjut ia menyebutkan,
dalam ketentuan umum undang-undang nomor 7 tahun 2012 tentang penanganan
konflik sosial dijelaskan bahwa penanganan konflik merupakan serangkaian
kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana baik sebelum maupun
sesudah terjadinya konflik yang mencakup pencegahan konflik, pengehentian konflik
dan pemulihan pasca konflik.
Melalui kegiatan dialog
tersebut, pihaknya mengharapkan kepada para peserta agar lebih berperan aktif
sehingga dapat diketahui sejauhmana capaian penanganan konflik di Aceh
khususnya di Abdya yang nantinya akan menjadi bahan diskusi antar pemangku
kebijakan dalam mengambil langkah strategis penanganan serta pencegahan konflik
di masyarakat.
“Kita harapkan dengan adanya
kegiatan ini dapat terciptanya kehidupan yang aman, tentram, damai dan
sejahtera di masyarakat serta mampu memelihara kondisi damai dan harmonis ini
dalam hubungan sosial kemasyarakatan,”harapnya.(T.N)